Talas merupakan salah satu opsi lain dari makanan pokok bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Orang Jawa biasanya mengoptimalkan seluruh bagian pohon talas sebagai makanan, mulai dari daunnya yang bisa dijadikan sayur hingga akar talas yang biasa dijadikan "cemilan" sebagai ganti beras, jagung, ubi kayu maupun ubi yang lain. Lengkapnya baca di sini.
Saya memiliki pengalaman dengan si talas ini dan menurut saya perlu saya tulis untuk sharing pengalaman.
Kemarin habis maghrib secara tidak sengaja saya menemukan sebakul talas. Ada beberapa yang sudah dikupas kulitnya. Langsung saya sikat saja (bukan saya gunakan untuk sikat gigi, saya sikat di sini maksudnya saya makan, saya jelaskan saja takutnya nanti jadi salah paham dan tumbuh menjadi HOAX).
Namun, tak seberapa lama setelah saya kunyah, saya merasakan ada sensasi tercabik-cabik pada bibir saya. Rasanya seperti terkena sayatan silet. Perih sekali tapi tidak mengeluarkan darah.
Merasa sensasi tidak nyaman seperti itu, saya langsung saja mengambil segelas air, saya minum, kalau buat mandi masih kurang. Bukannya hilang, sensasi perih malah mengalir hingga pangkal tenggorok. Saya mencoba untuk tidak panik.
Google saya tanya, "Mbah, tahu ndak solusi keracunan ubi Talas?". "Mbah e mestine reti le, rene tak weruhke". Lalu Mbah Google menunjukkan beberapa solusi keracunan ubi Talas.
Tetapi apa yang saya temukan tidak sesuai ekspektasi saya. Banyak situs yang menjelaskan dari mana racun Talas berasal, tapi tidak mencantumkan solusi untuk mengatasinya. Saya kecewa dengan Mbah Google.
Akhirnya saya buat solusi sendiri. Saya pernah dengar bahwa salah satu mukjizat Al-Qur'an adalah menjadi media pengobatan. Langsung saja saya wudhu dan Al-Qur'an saya ambil, lalu saya baca. Tak berselang lama sensasi perih seperti sayatan silet yang saya rasakan agak hilang.
Dari kejadian ini saya mendapatkan beberapa pelajaran;
Pertama, jangan mudah panik. Meskipun kejadian yang saya alami terlihat sepele, bisa saja jika orang lain yang mengalaminya mereka akan mudah merasa panik.
Kedua, jangan terlalu mengandalkan Mbah Google. Karena Mbah Google tidak mengajarkan kita hal-hal yang perlu kita ketahui, namun hanya hal-hal yang ingin kita ketahui.
Ketiga, cobalah mencari solusi lain yang lebih baik atau lebih baik bertanya dengan orang lain yang lebih tua, karena biasanya orang yang lebih tua memiliki pengalaman yang lebih banyak dari diri kita.
Tabik.

hati hati klau masak talas, bersihin dengan air mengalir
ReplyDeleteTempat Pengiriman Barang Terdekat